Tradisi Banua Pahuluan Balawang Tujuh Hidup Kembali Dalam Bentuk Karasmin
- Feb 12, 2026
- Admin
- Seni BUdaya
Balida – Malam di RT 4 Desa Balida, Senin (9/2/2026), terasa berbeda dari biasanya. Cahaya lampu menerangi halaman warga, tabuhan musik tradisional menggema, dan sorak antusias masyarakat memecah suasana. Pemerintah Desa Balida kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan seni dan budaya lokal melalui kegiatan Pertunjukan dan Gelar Tradisi Karasmin Pahuluan, yang digelar bertepatan dengan pernikahan pasangan Masbudi dan Raihanah.
Momentum sakral tersebut tidak hanya menjadi perayaan dua insan yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan, tetapi juga menjadi ajang kebangkitan tradisi Banua Pahuluan yang mulai jarang dipentaskan. Berbagai kesenian tradisional ditampilkan secara memukau, di antaranya Bajalan Liuk, Bagunung Api, Balawang Tujuh, dan Basinggaan—kesenian yang sarat makna filosofis dan nilai sejarah.
Suasana malam itu berlangsung meriah dan penuh kekhidmatan. Warga dari berbagai usia tampak memadati lokasi acara. Anak-anak menyaksikan dengan mata berbinar, para orang tua larut dalam nostalgia, sementara generasi muda antusias mengabadikan momen langka tersebut.
Penampilan Bagunung Api menjadi salah satu atraksi yang paling menyita perhatian. Api yang menyala terang di tengah gelapnya malam menghadirkan nuansa magis sekaligus simbol keberanian dan semangat. Begitu pula dengan Balawang Tujuh, yang menggambarkan kekuatan, persatuan, dan nilai-nilai kepahlawanan dalam tradisi masyarakat Pahuluan. Sementara Bajalan Liuk dan Basinggaan menampilkan keindahan gerak dan kekompakan para pemain yang memukau para penonton.
Kepala Desa Balida, Sahridin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap warisan budaya leluhur.
“Pada malam hari ini kita mencoba melestarikan budaya dan seni tradisi Banua Pahuluan. Tradisi seperti Balawang Tujuh, Bagunung Api, dan Bajalan Liuk ini sudah sangat jarang kita temukan. Bahkan di Desa Balida sendiri sudah lama tidak pernah ditampilkan lagi. Karena itu malam ini kita hadirkan kembali sebagai bagian dari kegiatan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal di Balangan,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan cerita atau dokumentasi, tetapi harus diwujudkan melalui pertunjukan nyata agar tetap hidup di tengah masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda agar tradisi tidak berhenti pada satu generasi saja.
Pemerintah Desa Balida berharap kegiatan seperti ini dapat terus digelar dalam berbagai momentum, baik pernikahan, peringatan hari besar, maupun festival desa. Dengan demikian, seni tradisi Banua Pahuluan tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi tetap menjadi identitas yang membanggakan.
Malam itu, di bawah langit Balida, bukan hanya pernikahan yang dirayakan—tetapi juga kebangkitan budaya yang kembali menemukan panggungnya di tengah masyarakat.