Sanggar Seni Balida Satria Tampilkan Tari Tabur Paung pada Festival Budaya Mesiwah Pare Gumboh ke-8 di Desa Liyu

  • Jul 15, 2026
  • Admin KIM Racah Mampulang
  • Seni BUdaya

Balida – Liyu Komitmen Desa Balida dalam melestarikan seni dan budaya kembali ditunjukkan melalui partisipasi Sanggar Seni Balida Satria pada Mesiwah Pare Gumboh (MPG) ke-8, yang diselenggarakan pada 10–12 Juli 2026 di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. Dalam ajang budaya masyarakat Dayak Deah tersebut, Sanggar Balida Satria dipercaya menampilkan Tari Tabur Paung, sebuah tari kreasi tradisi yang mengangkat nilai-nilai ritual pertanian masyarakat Dayak Kalimantan Selatan.

Mesiwah Pare Gumboh merupakan tradisi syukuran panen masyarakat Dayak Deah yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, leluhur, alam, serta sumber kehidupan yang telah memberikan hasil panen. Lebih dari sekadar sebuah festival budaya, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi, pelestarian adat istiadat, sekaligus penguatan identitas budaya masyarakat Dayak di Kabupaten Balangan.

Pada malam pembukaan, Jumat (10/7/2026), Sanggar Seni Balida Satria tampil di panggung utama "Suara dari Jantung Borneo" membawakan Tari Tabur Paung. Tarian ini mengisahkan prosesi masyarakat Dayak saat menyemai benih padi di ladang sebagai simbol harapan, doa, dan rasa syukur agar memperoleh hasil panen yang melimpah. Gerakan-gerakan tari yang ritmis dipadukan dengan hentakan khas Dayak menggambarkan keharmonisan hubungan manusia dengan alam serta penghormatan kepada leluhur.

Penampilan tersebut dibawakan oleh lima penari muda berbakat, yakni Alya Mauliana, Rahmawati, Sofiya Hasanah, Salwa Syifa Ramadani, dan Aulia Safitri, serta Nur Aulia Jannah. Dengan balutan busana tradisional masyarakat Dayak yang menggambarkan pakaian saat berladang, para penari turut menggunakan properti berupa bakul benih dan giring-giring berhias daun kelapa yang memperkuat nuansa ritual pertanian dalam setiap adegan tari.

Tari yang ditata oleh Siti Rahmah, S.Sos. dengan penanggung jawab Sahridin, S.Pd. ini mengangkat pesan penting tentang pelestarian budaya, penghormatan terhadap alam, serta nilai gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak sejak dahulu. Penampilan Sanggar Balida Satria mendapat apresiasi dari para pengunjung karena mampu menghadirkan kekayaan budaya lokal melalui penyajian yang menarik tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

Keikutsertaan Sanggar Seni Balida Satria dalam Mesiwah Pare Gumboh ke-8 menjadi bukti bahwa generasi muda Desa Balida terus berperan aktif menjaga dan memperkenalkan warisan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas. Partisipasi ini juga memperkuat posisi Desa Balida sebagai desa yang konsisten mendukung pengembangan seni, budaya, dan potensi pariwisata berbasis kearifan lokal.

Pemerintah Desa Balida mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus mencintai, mempelajari, dan melestarikan seni budaya daerah. Dengan menjaga tradisi sebagai identitas bersama, warisan leluhur akan tetap hidup dan menjadi kebanggaan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.